Guestbook

TENTARA MONGOL TAKLUK DI TANAH JAWA

Mengenangkan kedahsyatan invasi bangsa Mongolia yang dimulai pada tahun 1219 ketika Temujin atau yang lebih dikenal dengan nama Jengis Khan (dari bahasa Mongol yang berarti Kaisar Semesta) menyerang kerajaan Khwarezm Shah Muhammad (yang wilayahnya kini meliputi kawasan Asia Tengah dan Persia). Gerak invasi pasukan Mongol atau yang lebih dikenal dengan sebutan pasukan Tartar dilakukan secara simultan. Disaat sebagian pasukan Tartar menyerang Khawarezm sebagian pasukan Tartar lainnya menerjang wilayah Rusia, sementara Jengis Khan sendiri menyerang wilayah Afghanistan dan India bagian Utara. Enam tahun kemudian, Jengis Khan kembali ke Mongol dengan daerah taklukkan yang luas sekaligus menjadikan Mongol sebagai sebuah kekaisaran yang besar dan kuat dengan kekuatan militer yang tampak tak terkalahkan. Pada tahun 1227 Jengis Khan meninggal dunia di Mongolia.



Sesaat sebelum Jengis Khan menghembuskan nafas terakhir, dia minta agar putera ketiganya, Ogadai, ditetapkan jadi penggantinya. Ini merupakan pilihan bijaksana karena Ogadai menjadi seorang jendral brilian atas hasil usahanya sendiri. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Mongol meneruskan penyerbuannya di Cina, sepenuhnya menguasai Rusia, dan menyerbu maju menuju Eropa. Di tahun 1241 gabungan tentara Polandia, Jerman, Hongaria sepenuhnya dipukul oleh orang-orang Mongol yang maju pesat menuju Budapest. Tetapi, tahun itu Ogadai meninggal dunia dan pasukan Mongol mundur dari Eropa dan tak pernah kembali lagi.
Tahun 1279 orang-orang Mongol sudah menguasai sebuah empirium yang wilayahnya berkali-kali lipat dariwilayah Mongolia sekarang. Penguasaan daerahnya meliputi Cina, Rusia, Asia Tengah, juga Persia dan Asia Tenggara. Tentaranya melakukan gerakan maju yang penuh keberhasilan menambah daerah yang membentang mulai dari Polandia hingga belahan utara India, dan kekuasaan Kublai Khan diakhiri di Korea, Tibet, dan beberapa bagian Asia Tenggara.

Puncak dari unjuk kekuatan militer bangsa Mongol terjadi pada tahun 1258 masehi. Pada saat itu pasukan Tartar dibawah pimpinan Hulako Khan (cucu dari Jengis Khan) berhasil menundukkan kesultanan yang paling masyur didunia pada saat itu, yaitu kesultanan Abasiyah yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Al Muhtasim. Banyak sumber sejarah menerangkan bahwa pasukan Tartar melakukan kekejaman yang luar biasa di Baghdad usai menaklukan pasukan dinasti Abasiyah. Pasukan Tartar yang memang memiliki keunggulan hanya pada kemampuan tempur membantai habis penduduk Baghdad dan membiarkan mayat-mayat bergeletakan dijalanan hingga kota Baghdad menjadi kota mati yang menebarkan penyakit. Bahkan, sedikit sumber sejarah menyebutkan bahwa pasukan Tartar juga membuat piramida yang tersusun dari kepala-kepala manusia di Baghdad. Kekejaman ini bukanlah sebuah akhir, pasukan Tartar juga melakukan pengrusakan yang sangat merugikan peradaban manusia di masa itu bahkan sampai masa kini. Pasukan Tartar membakar seluruh koleksi naskah ilme pengetahuan yang tersimpan digedung perpustakaan Baghdad yang merupakan perpustakaan terbesar pada masa itu di sungai Eufrat dan Tigris sehingga menyebabkan warna air sungai itu menjadi hitam karna abu kertas yang laur biasa banyaknya.


Kekejaman dan kedahsyatan pasukan Tartar sangat melegenda. Salah satunya terepresentasikan dalam sebuah kisah yang menyebutkan bahwa pernah ada seorang tentara Tartar yang menantang duel pada penduduk sebuah kota di kawasan Asia Tengah. Saking ngerinya mereka pada reputasi tentara Tartar tak seorangpun berani melayani tantangan itu sehingga satu persatu tentara tartar itu menghabisi mereka. Konon kabarnya jumlah mereka yang dibantai seorang tentara tartar itu mencapai 100 orang. Sungguh luar biasa kekuatan militer bangsa Mongol pada masa itu. Penaklukan mereka ini hanya mungkin disaingi oleh penaklukan dinasti Umayyah ( yang termasyur karena memiliki 4 panglima perang tak terkalahkan pada satu kurun waktu) dan Iskandar Agung ( yang mampu menaklukkan imperium Persia, Afrika Utara, Asia Tengah dan sebagian Asia Minor).

Catatan dahsyat yang ditorehkan pasukan Tartar ini hanya ternoda dengan 3 kali kegagalan penyerbuan mereka. Kegagalan pertama terjadi pada tahun 1260. Takluknya Baghdad merupakan sebuah sinyal bahaya bagi bangsa Mesir yang kala itu berada dibawah pemerintahan dinasti Mameluk. Mesir sepenuhnya sadar, sebagai poros kekuatan Islam kedua setelah Baghdad, maka Mesir adalah target operasi militer Pasukan Tartar berikutnya. Dinasti Mameluk segera mengkonsolidasikan kekuatan militernya. Kekuatan militer yang terhimpun dari kalangan bangsa Mesir dan bangsa-bangsa Arab disekitarnya serta bangsa Kurdi ( yang termasyur dengan kelincahan dan ketangguhannya dalam berkuda dan memanah dalam perang Salib II) telah siap menghadapi pasukan Tartar. Pasukan ini memutuskan untuk menyongsong pasukan Tartar daripada harus menunggu dan berada pada posisi defensif. Maka pada tahun 1260 disebuah kawasan terbuka yang kini terletak didaerah Palestina terjadilah sebuah perang terbuka yang dahsyat antara bangsa Mongol menghadapi bangsa-bangsa Muslim dibawah komando Mesir. Kegigihan pasukan Muslim yang mempertaruhkan masa depan agama dan peradabannya ini mampu mengatasi kedahsyatan kekuatan pasukan tartar yang legendaris. Untuk pertama kalinya semenjak ekspansi yang dimulai Jengis Khan, pasukan Tartar harus menderita kekalahan dan terpaksa bergerak mundur. Beberapa tahun kemudian pasukan Tartar mencoba kembali untuk menaklukkan Mesir, namun sekali lagi mereka dipukul mundur oleh kekuatan yang sama. Dua kegagalan berikutnya terjadi ketika Mongol berada dibawah pemerintahan kaisar Kubilai Khan. Kegagalan kedua ekspansi pasukan Tartar terjadi ketika mereka hendak menaklukkan kepulauan Jepang. Tidak banyak catatan sejarah yang secara terperinci menerangkan kejadian ini. Dari sedikit catatan yang ada, kegagalan ini terjadi karna armada pasukan tartar yang hendak menyerbu Jepang luluh lantak oleh terjangan badai, mengenai waktu kejadiannya kemungkinan terjadi antara rentang waktu setelah kekalahan pasukan tartar atas Mesir hingga ekspansi mereka ke pulau Jawa pada tahun 1293 yang menjadi kegagalan invasi mereka yang ketiga.




Prahara di Jawa Dwipa menjelang ancaman pasukan Tartar


Pulau Jawa pada masa dunia tengah diguncang oleh gempuran pasukan Tartar sebagian besar dikuasai oleh kerajaan Singoshari. Kerajaan Singoshari adalah kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok. Arok sendiri adalah pemuda dari desa Ganter yang berhasil mengalahkan Akuwu Tumapel Tunggul Ametung dan mentasbihkan diri menjadi akuwu Tumapel berikutnya. Arok kemudian berkonsolidasi dengan kaum Brahmana untuk menghadapi serbuan tentara Kediri ke Tumapel dengan tujuan menumpas pemberontakan Arok. Pasukan Kediri tumpas di Tumapel dan Arok semakin kuat. Akhirnya, pada tahun 1222 Arok bersama pasukannya menyerang Kotaraja Kediri dan manaklukkan raja Kediri saat itu yakni Kertajaya. Arok kemudian diangkat menjadi raja dan mendirikan kerajaan Singoshari diatas puing-puing kerajaan Kediri.

Dalam beberapa dasawarsa kemudian, Singoshari berhasil membangun sebuah kestabilan politik dan militer yang menempatkan posisi Singoshari sebagai kerajaan yang cukup disegani di Nusantara. Puncak kejayaan Singoshari terjadi pada masa pemerintahan raja Kertanegara. Wujud kekuatan Singoshari pada kala itu adalah pengiriman sebuah ekspedisi mileter yang dinamakan Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275 ke pulau Andalas dengan tujuan menaklukkan Sriwijaya yang memasuki senja kekuasaannya.

Sementara itu, didaratan China, cucu Jengis Khan yang bernama Kubilai Khan berhasil membangun sebuah kekuasaan yang ditopang dengan kekuatan militer yang besar dan tangguh setelah menaklukkan kerajaan China yang diperintah oleh dinasti Tang. Kubilai Khan yang menamakan pemerintahannya dengan nama Sung berkeinginan untuk memperluas pengaruh bangsa Mongol setelah menjajah Cina dengan menundukkan kerajaan-kerajaan lain di wilayah Asia Tenggara dan Asia Timur lewat menggunakan kekuatan militer dan politik. Caranya dengan meminta para penguasa lokal untuk mengakui kaisar Mongol sebagai penguasa tunggal dan mengharuskan raja-raja lokal tersebut untuk mengirim upeti (tribute) kepada kaisar Cina. Salah satunya adalah ke Jawa yang kala itu diperintah oleh Raja Kartanagara dari kerajaan Singhasari.

Demi tujuan tersebut diatas, pada tahun 1289 Kubilai Khan mengirimkan utusannya ke Singoshari. Pengiriman utusan ini telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh Kubilai Khan, namun utusan yang terakhir inilah yang mengalami insidenyang pada akhirnya memicu sebuah konfrontasi terbuka. Utusan itu bernama Meng Chi, datang membawa pesan dari Kubilai Khan supaya Singoshari tunduk dibawah kekuasaannya. Kertanegara merasa tersinggung, lalu mencederai wajah Meng Chi dan meingirimnya pulang ke Cina dengan pesan tegas bahwa ia tidak akan tunduk di bawah kekuasaan raja Mongol. Perlakuan Kartanegara terhadap Meng Chi dianggap sebagai penghinaan kepada Kubilai Khan. Sebagai seorang kaisar yang sangat berkuasa di daratan Asia saat itu, ia merasa terhina dan berniat untuk menghancurkan Jawa yang menurutnya telah mempermalukan bangsa Mongol.

Singoshari pada saat itu sebenarnya tengah dalam keadaan yang kurang menguntungkan karena pasukannya dalam jumlah besar belum kembali dari Ekspedisi Pamalayu. Kesempatan ini pun dimanfatkan oleh Jayakatwang, seorang raja bawahan dari Gelang-Gelang. Dengan bantuan Adipati Lumajang (Madura) bernama Aria Wiraraja, ia bermaksud menggulingkan Kertanegara. Maka, diserbunyalah istana Singasari. Dalam peristiwa tersebut, Kertanegara terbunuh. Setelah tragedi itu, Jayakatwang mengangkat dirinva menjadi raja, dan mengalihkan pusat kerajaan ke Daha (Kediri). Jayakatwang sendiri disinylair masih keturunan dari dinasti Kediri yang ditundukkan oleh pendiri Singoshari yakni Ken Arok.

Kehancuran Singoshari ini menempatkan pulau Jawa pada posisi yang sangat rawan dengan pertumpahan darah. Ada kemungkinan tiga perang lanjutan yang akan segera terjadi di pulau Jawa. Kemungkinan perang pertama adalah serangan dari Kubilai Khan yang menuntut balas atas penghinaan Kertanegara atas dirinya. Kemungkinan perang kedua adalah serangan kepada Jayakatwang dari pasukan Kertanegara yang kembali dari Ekspedisi Pamalayu. Dan, kemungkinan terakhir adalah serangan dari Raden Wijaya yang menuntut balas kepada Jayakatwang atas pembunuhan mertuanya, yakni Kertanegara.



Raden Wijaya dan Majapahit

Raden Wijaya adalah salah seorang menantu Kertanegara. Saat terjadi pemberontakan, ia berusaha mati-matian mempertahankan Singasari. Tetapi sayang usahanya tidak berhasil. Akhirnya, bersama ketiga rekannya Ranggalawe. Sora, dan Nambi, ia melarikan diri ke Madura. Mereka bermaksud memohon perlindungan dari Adipati Lumajang, yakni Aria Wiraraja. Adipati ini, yang tadinya menyokong Jayakatwang menggulingkan Kertanegara, ternyata adalah ayah dan Nambi. Kini sang adipati sudah berubah haluan.

Aria Wiraraja lantas menasehati Raden Wijaya agar berpura-pura tunduk kepada Jayakatwang, sambil meminta sedikit daerah untuk tempat berdiam. Nasehat tersebut diiyakan.

Jayakatwang yang tidak berprasangka apa-apa mengabulkan permintaan Raden Wijaya. Sang raden diijinkan membuka Hutan Tarik. Dengan bantuan sisa-sisa tentaranya dan pasukan Madura, dibersihkannyalah hutan itu sehingga layak ditempati. Sewaktu sedang bekerja, salah seorang tentaranya merasa haus. Lalu dimakanyalah buah maja. Ternyata rasanya pahit. Sejak saat itulah tempat tersebut dinamai Majapahit.
Di Majapahit inilah Raden Wijaya mulai mengkonsolidasikan kekuatan untuk balik menyerang Jayakatwang. Menyadari bahwa jumlah pasukannya tidak memungkinkan untuk mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya memfokuskan diri untuk memperkuat pasukannya sambil menunggu kemungkinan datangnya serangan dari pasukan Tartar atau pasukan Kertanegara yang kembali dari Ekspedisi Pamalayu untuk mengambil keuntungan darinya. Pasukan Raden Wijaya sendiri terdiri dari sisa-sia pengikutnya dan pengikut barunya dari kawasan Majapahit dan bantuan dari Aria Wiraraja.



Invasi Mongol ke Jawa

Tindakan dari Kertanegara membuat Kubilai Khan sangat marah. Sebagai keturunan Jengis Khan yang menyandang reputasi penakluk yang menakutkan, tindakan kerajaan kecil seperti Singoshari adalah sebuah penghinaan besar. Hanya satu jawaban bagi Kertanegara, tumpas habis. Kertanegara harus tahu dengan siapa dia berhadapan. Kertanegara harus menyadari bahwa kekuatan Mongol adalah kekuatan yang paling digdaya dimuka bumi pada saat itu. Maka Kubilai Khan menyiapkan sebuah armada besar yang akan melaksanakan invasi ke pulau Jawa. Invasi ini bertujuan dua hal sekaligus, yakni menghukum Kertanegara dan menguasai pulau Jawa.
Peristiwa penyerbuan ke Jawa ini dituliskan dalam beberapa sumber di Cina dan merupakan sejarah yang sangat menarik tentang kehancuran kerajaan Singhasari dan munculnya kerajaan Majapahit, seperti yang dapat kita baca dalam buku nomor 162 dari masa pemerintahan Dinasti Yuan yang terjemahannya dapat dibaca dalam buku W.P. Groeneveldt berjudul Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Chinese Sources.

Disebutkan bahwa utusan yang dikirim ke Jawa terdiri dari tiga orang pejabat tinggi kerajaan, yaitu Shih Pi, Ike Mese, dan Kau Hsing. Hanya Kau Hsing yang berdarah Cina, sedangkan dua lainnya adalah orang Mongol. Mereka diberangkatkan dari Fukien membawa 20.000 pasukan dan seribu kapal. Kublai Khan membekali pasukan ini untuk pelayaran selama satu tahun serta biaya sebesar 40.000 batangan perak. Shih Pi dan Ike Mese mengumpulkan pasukan dari tiga provinsi: Fukien, Kiangsi, dan Hukuang. Sedangkan Kau Hsing bertanggung jawab untuk menyiapkan perbekalan dan kapal. Pasukan besar ini berangkat dari pelabuhan Chuan-chou dan tiba di Pulau Belitung sekitar bulan Januari tahun 1293. Di sini mereka mempersiapkan penyerangan ke Jawa selama lebih kurang satu bulan.

Perjalanan menuju Pulau Belitung yang memakan waktu beberapa minggu melemahkan bala tentara Mongol karena harus melewati laut dengan ombak yang cukup besar. Banyak prajurit yang sakit karena tidak terbiasa melakukan pelayaran. Di Belitung mereka menebang pohon dan membuat perahu (boats) berukuran lebih kecil untuk masuk ke sungai-sungai di Jawa yang sempit sambil memperbaiki kapal-kapal mereka yang telah berlayar mengarungi laut cukup jauh.

Pada bulan kedua tahun itu Ike Mese bersama pejabat yang menangani wilayah Jawa dan 500 orang menggunakan 10 kapal berangkat menuju ke Jawa untuk membuka jalan bagi bala tentara Mongol yang dipimpin oleh Shih Pi. Ketika berada di Tuban mereka mendengar bahwa raja Kartanagara telah tewas dibunuh oleh Jayakatwang yang kemudian mengangkat dirinya sebagai raja Singhasari.

Oleh karena perintah Kublai Khan adalah menundukkan Jawa dan memaksa raja Singhasari, siapa pun orangnya, untuk mengakui kekuasaan bangsa Mongol, maka rencana menjatuhkan Jawa tetap dilaksanakan. Sebelum menyusul ke Tuban orang-orang Mongol kembali berhenti di Pulau Karimunjawa untuk bersiap-siap memasuki wilayah Singhasari. Setelah berkumpul kembali di Tuban dengan bala tentara Mongol.
Diputuskan bahwa Ike Mese akan membawa setengah dari pasukan kira-kira sebanyak 10.000 orang berjalan kaki menuju Singhasari, selebihnya tetap di kapal dan melakukan perjalanan menggunakan sungai sebagai jalan masuk ke tempat yang sama. Sebagai seorang pelaut yang berpengalaman, Ike Mese, yang sebenarnya adalah suku Uigur dari pedalaman Cina bukannya bangsa Mongol, mendahului untuk membina kerja sama dengan penguasa-penguasa lokal yang tidak setia kepada Jayakatwang.

Menurut cerita Pararaton, kedatangan bala tentara Mongol (disebut Tartar) adalah merupakan upaya Bupati Madura, Aria Wiraraja, yang mengundangnya ke Jawa untuk menjatuhkan Daha. Aria Wiraraja berjanji kepada raja Mongol bahwa ia akan mempersembahkan seorang puteri cantik sebagai tanda persahabatan apabila Daha dapat ditundukkan. Surat kepada raja Mongol disampaikan melalui jasa pedagang Cina yang kapalnya tengah merapat di Jawa.



Aliansi Raden Wijaya dengan pasukan Kubilai Khan dan hancurnya Jayakatwang

Armada kapal kerajaan Mongol selebihnya dipimpin langsung oleh Shih Pi memasuki Jawa dari arah sungai Sedayu dan Kali Mas. Setelah mendarat di Jawa, ia menugaskan Ike Mese dan Kau Hsing untuk memimpin pasukan darat. Beberapa panglima “pasukan 10.000-an” turut mendampingi mereka. Sebelumnya, tiga orang pejabat tinggi diberangkatkan menggunakan ‘kapal cepat’ menuju ke Majapahit setelah mendengar bahwa pasukan Raden Wijaya ingin bergabung tetapi tidak bisa meninggalkan pasukannya. Melihat keuntungan memperoleh bantuan dari dalam, pasukan Majapahit ini kemudian dijadikan bagian dari bala tentara kerajaan bangsa Mongol.

Untuk mempermudah gerakan bala tentara asing ini, Raden Wijaya memberi kebebasan untuk menggunakan pelabuhan-pelabuhan yang ada di bawah kekuasaannya dan bahkan memberikan panduan untuk mencapai Daha, ibukota Singhasari. Ia juga memberikan peta wilayah Singhsari kepada Shih Pi yang sangat bermanfaat dalam menyusun strategi perang menghancurkan Jayakatwang.

Selain Majapahit, beberapa kerajaan kecil (mungkin setingkat provinsi di masa sekarang) turut bergabung dengan orang-orang Mongol sehingga menambah besar kekuatan militer sudah sangat kuat ketika berangkat dari Cina. Persengkongkolan ini terwujud sebagai ungkapan rasa tidak suka mereka terhadap raja Jayakatwang yang telah membunuh Kartanegara melalui sebuah kudeta yang keji.

Pada bulan ketiga tahun 1293, setelah seluruh pasukan berkumpul di mulut sungai Kali Mas, penyerbuan ke kerajaan Singhasari mulai dilancarkan. Kekuatan kerajaan Singhasari di sungai tersebut dapat dilumpuhkan, lebih dari 100 kapal berdekorasi kepala raksasa dapat disita karena seluruh prajurit dan pejabat yang mempertahankannya melarikan diri untuk bergabung Peperangan besar baru terjadi pada hari ke-15, bila dihitung semenjak pasukan Mongol mendarat dan membangun kekuatan di muara Kali Mas, di mana bala tentara gabungan Mongol dengan Raden wijaya berhasil mengalahkan pasukan Singhasari. Kekalahan ini menyebabkan sisa pasukan kembali melarikan diri untuk berkumpul di Daha, ibukota Singhasari. Pasukan Ike Mese, Kau Hsing, dan Raden wijaya melakukan pengejaran dan berhasil memasuki Daha beberapa hari kemudian. Pada hari ke-19 terjadi peperangan yang sangat menentukan bagi kerajaan Singhasari.

Dilindungi oleh lebih dari 10.000 pasukan raja Jayakatwang berusaha memenangkan pertempuran mulai dari pagi hingga siang hari. Dalam peperangan ini dikatakan bahwa pasukan Mongol menggunakan meriam yang pada zaman itu masih tergolong langka di dunia.

Terjadi tiga kali pertempuran besar antara kedua kekuatan yang berseteru ini di keempat arah kota dan dimenangkan oleh pihak para penyerbu. Pasukan Singhasri terpecah dua, sebagian menuju sungai dan tenggelam di sana karena dihadang oleh orang-orang Mongol, sedang sebagian lagi sebanyak lebih kurang 5.000 dalam keadaan panik akhirnya terbunuh setelah bertempur dengan tentara gabungan Mongol-Majapahit. Salah seorang anak Jayakatwang yang melarikan diri ke perbukitan di sekitar ibukota dapat ditangkap dan ditawan oleh pasukan Kau Hsing berkekuatan seribu orang.

Jayakatwang menyadari kekalahannya, ia mundur dan bertahan di dalam kota yang dikelilingi benteng. Pada sore harinya ia memutuskan keluar dan menyerah karena tidak melihat kemungkinan untuk mampu bertahan.Kemenangan pasukan gabungan ini menyenangkan bangsa Mongol. Seluruh anggota keluarga raja dan pejabat tinggi Singhasari berikut anak-anak mereka ditahan oleh bangsa Mongol.


Serangan balik Raden Wijaya

Sejarah mencatat bahwa sebulan kemudian setelah penaklukan itu, Raden Wijaya memberontak dan membunuh 200 orang prajurit Mongol yang mengawalnya ke Majapahit untuk menyiapkan persembahakn kepada raja Kublai Khan. Adalah Sora dan Ranggalawe, dua panglima perang Majapahit yang sempat membantu orang-orang Mongol menjatuhkan Jayakatwang, melakukan penumpasan itu.

Setelah itu, dengan membawa pasukan yang lebih besar, Raden Wijaya menyerang balik orang-orang Mongol dan memaksa mereka keluar dari Pulau Jawa. Shih Pi dan Kau Hsing yang terpisah dari pasukannya itu harus melarikan diri sampai sejauh 300 li (± 130 kilometer), sebelum akhirnya dapat bergabung kembali dengan sisa pasukan yang menunggunya di pesisir utara. Dari sini ia berlayar selama 68 hari kembali ke Cina dan mendarat di Chuan-chou. Kekekalahan bala tentara Mongol oleh orang-orang Jawa hingga kini tetap dikenang dalam sejarah Mongol. Sebelumnya mereka nyaris tidak pernah kalah di dalam peperangan melawan bangsa mana pun di dunia.
Menjelang akhir bulan Maret, yaitu di hari ke-24, seluruh pasukan Mongol kembali ke negara asalnya dengan membawa tawanan para bangsawan Singhasari ke Cina beserta ribuan hadiah bagi kaisar. Sebelum berangkat mereka menghukum mati Jayakatwang dan anaknya sebagai ungkapan rasa kesal atas ‘pemberontakan’ Raden Wijaya. Kitab Pararaton memberikan keterangan yang kontradiktif, disebutkan bahwa Jayakatwang bukan mati dibunuh orang-orang Mongol melainkan oleh Raden Wijaya sendiri, tidak lama setelah ibukota kerajaan Singhasari berhasil dihancurkan.

Ternyata kegagalan Shih Pi menundukkan Jawa harus dibayar mahal olehnya. Ia menerima 17 kali cambukan atas perintah Kublai Khan, seluruh harta bendanya dirampas oleh kerajaan sebagai kompensasi atas peristiwa yang meredupkan kebesaran nama bangsa Mongol tersebut. Ia dipersalahkan atas tewasnya 3.000 lebih prajurit dalam ekspedisi menghukum Jawa tersebut.

Selain itu, peristiwa ini mencoreng wajah Kublai Khan karena untuk kedua kalinya dipermalukan orang-orang Jawa setelah raja Kartanegara melukai wajah Meng Chi. Namun sebagai raja yang tahu menghargai kesatriaan, tiga tahun kemudian nama baik Shih Pi direhabilitasi dan harta bendanya dikembalikan. Ia diberi hadiah jabatan tinggi dalam hirarkhi kerajaan Dinasti Yuan yang dinikmatinya sampai meninggal dalam usia 86 tahun. (referensi dihimpun dari berbagai artikel di internet dan buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Dunia oleh Michael H. Hart)



Bumerang keangkuhan

Kegagalan invasi Mongol ke Mesir dan ke Jawa dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama kelihaian strategi musuh. Tidak dapat dipungkiri, manuver Mesir untuk menyongsong pasukan musuh adalah pilihan taktik yang jitu. Tanah Jazirah Arab yang kering dan selalu panas merupakan kendala bagi siapa saja yang hendak menyerang Arab. Tak terkecuali bagi bangsa Mongol yang memiliki pasukan yang tangguh. Minimal sebelum melakukan penyerangan, pasukan Tartar memerlukan waktu untuk aklimatisasi dan juga pengenalan medan agar mereka bisa memetakan dimana letak sumber air. Penguasaan atas sumber air merupakan faktor yang sangat penting dalam setiap peperangan yang terjadi di jazirah Arab. Contohnya adalah kekalahan pasukan Quraisy dalam perang Badar melawan Rasulullah Muhammad SAW yang salah satunya disebabkan oleh kegagalan mereka menguasai sumber air, kemudian kekalahan pasukan Guy De Lusignan, Raja Jerussalem, atas pasukan Sholahuddin Al Ayubi yang juga disebabkan salah satunya oleh kegagalan mereka menguasai sumber air. Manuver Mesir yang menyongsong pasukan Tartar meminimalisir segala kemungkinan pasukan Tartar untuk mengenal medan dan menyusun strategi. Sehingga pasukan Tartar berperang secara sporadis. Selain itu, menuver ini juga merupakan shock theraphy yang manjur. Sebelum berhadapan dengan Mesir, pasukan Tartar selalu berada dalam posisi ofensif. Ketika dihadapkan pada posisi defensif, pasukan Tartar berperang kondisi mental yang tertekan sehingga semangat berperang mereka secara perlahan menurun. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Jawa. perbedaan iklim dan medan laga di tanah Jawa juga menjadi faktor yang mempengaruhi kekalahan tentara Kubilai Khan atas pasukan Raden Wijaya. Iklim tropis tanah Jawa ditambah medan pertempuran di sungai dan hutan tropis membuat tentara Kubilai Khan tidak berada dalam posisi yang menguntungkan. Apalagi serangan balik yang tidak terduga dilakukan oleh pasukan Raden Wijaya yang sebelumnya justru menjadi sekutu yang sangat mereka andalkan dalam penguasaan medan. Serangan Raden Wijaya ini membuat pasukan Mongol berperang secara sporadis dan kebingungan karena tiadanya kemampuan mereka untuk menguasai medan, sehingga jumlah pasukan yang besar tidak mampu mereka jadikan faktor determinan yang membawa mereka pada kemenangan perang.
Faktor kedua yang menyebabkan kegagalan Pasukan Tartar adalah keangkuhan mereka sendiri. Reputasi mereka yang cemerlang di medan pertempuran membuat mereka memandang remeh lawan dengan selalu merasa bahwa merekalah yang akan selalu berada dalam posisi ofensif. Keangkuhan ini membuat mereka tidak mampu membaca situasi yang memungkinkan perang tidak berjalan seperti skenario mereka. Terbukti ketika Mesir menyerang terlebih dahulu dan Raden Wijaya melakukan serangan balik, pasukan Tartar tidak siap untuk situasi ini sehingga mereka berperang dengan kocar kacir. Sebagai prajurit yang tangguh, justru pasukan Tartar melupakan satu ungkapan yang sangat penting dalam perang, yakni perang bukan hanya perkara membunuh lawan tetapi yang lebih penting adalah menaklukkan lawan dalam situasi yang kita ciptakan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

gambargambar mengatakan...

yang ini lebih masuk akal

Poskan Komentar